sebuah cerpen.... iya cerpen.. semoga Anda tidak bosan membacanya, baca dengan lisan dan rasakan dengan hati, hehe jangan baper yaa.. selamat membaca^_^
“Indonesia Raya.. merdeka!Merdeka! tanahku, negeriku yang ku cinta...”
Suara lantang nan merdu paduan suara sekolahku yang bertugas
menjadi tim obade pada upacara 17 Agustus tahun ini. Sementara peserta beserta
para undangan dengan khidmat mengangkat tangan kanannya ke samping alis sembari
memfokuskan pandangannya pada satu titik, Merah Putih.
Namaku Liza, lengkapnya Liza Apriani. Asli Aceh, namunSekaramg aku
sudah tak tinggal di Aceh. Aku dan mamak ikut dengan ayah ke Bogor, tempat
dimana ayah selama ini menghabiskan waktunya mencari nafkah untuk aku dan
mamak.Ini adalah tahun pertamaku mengenyam pendidikan di bangku Sekolah Menengah
Kejuruan dan hari ini merupakan upacara kemerdekaan pertamaku dengan sebelah
kaki sejak tsunami 26 desember tahun lalu. Ya, aku adalah salah seorang korban
tsunami Aceh yang selamat dari maut, namun dengan kaki membusuk akibat dua hari
ditindih batang pohon.
Duduk di atas kursi sambil menengadah menghormat pada sang Merah
Putih, sadar bahwa aku sudah tak normal lagi, tanpa tersadar air mata mulai
menetes membasahi pipi. Teringat kejadian yang membuat kakiku harus diamputasi.
pagi itu, 26 desember 2004, sekitar pukul 6 pagi.
“mamak, aku
izin ke pantai ya. Teman-teman sudah menungguku disana” ucapku pada mamak yang
baru saja selesai membereskan kamarnya
“yasudah, za. Bawa ikan ini, sekalian kau antarkan ke rumah Bibi
kau” jawab mamak sambil menyodorkan ikan padaku
“iya, mak”
Rumah bibiku memang searah dengan pantai yang ingin ku tuju. Dengan
hati riang ku antarkan ikan itu dan lanjut berlari ke arah pantai. Sesampainya
disana mereka sudah memulai aktifitas rutin kami di minggu pagi. Ya, bermain
sepakbola.
“teman-teman, aku ikut main ya!!!” tanpa menunggu waktu lama, aku
sudah berada dalam pertandingan. Kini bola ada di kakiku
“za, oper bolanya padaku” teriak Andi meminta bola yang sedang ku
kuasai
“terima ini di, bikin gol” ku umpan bola tersebut dan tercipta lah
gol.
Aku memang perempuan tomboy. Kurasa tak ada yang salah jika aku
menyukai sepakola, bahkan aku pernah bermimpi menjadi pesepakbola wanita
profesional, atau mungkin aku dapat mengharumkan nama Indonesia. Hahaha mimpi
yang aneh memang. Namun, selalu tumbuh rasa nasionalismeku ketika mendengar
lagu kebangsaan dikumandangkan saat timnas bertanding.
Terasa suasana menyenangkan khas anak pantai dengan kaki telanjang
berlari mengejar bola untuk satu tujuan, cetak gol. Sejenak aku berdiri
menghela napas, memperhatikan kelakuan dari teman-teman, ah tidak, mereka
saudara-saudaraku. Masih sama saja dengan biasanya. Dan ku perhatikan suasana
sekitar, terasa aneh. Kenapa angin hari ini begitu dingin, tak seperti
biasanya.Ah, munkin karena masih pagi ketika ku lihat jam yang melilit di
lenganku pukul 7.30. lalu
“bukkkkkkk!!!” bola itu mengenai pipiku hingga aku tersungkur ke
pasir
“za, maaf, aku tak sengaja mengenaimu. Kamu tak apa?” ujar Achmad
meminta maaf dengan nada sedih
“ah, tak apa mad” sambil bangkit “aku yang tak berhati-hati karena
lamunanku tadi”.
“memang apa yang kau lamunkan, za?” tanya Iman.
“ah tak ada, ayo kita main lagi!!” sambil tersenyum kutepis
perasaan anehku itu.
Kami memulai kembali permainan kami. Tawa riang teman-teman sedikit
menenangkan perasaanku. Seakan tak lelah permainan terus berlanjut, sampai
pukul 07.53, dan gempa pun mulai terasa.
“Allahu Akbar.... Allahu Akbar.... Allahu Akbar....” terdengar
suara orang-orang keluar dari rumah, hotel, warung-warung, ketika gempa mulai
terasa.
Gempa dengan kekuatan 9,3 skala richter ini begitu kencang terasa
di tempat dimana kami berdiri. Sekitar hampir sepuluh menit gempa terjadi
dengan kekuatan nan dahsyatnya. Rumah-rumah semipermanen di sepanjang pesisir
pantai mulai ambruk.
“rumahku.... ya Allah, rumahku ambruk... anakku ada di dalam.
Selamatkan dia pak.. selamatkan anakku!” rintih tangis seorang ibu kepada
seorang pemuda yang tak bisa berbuat banyak karena gempa masih berlangsung.
“anakku!!! Anakku!!!” rontahan ibu itu ditahan oleh pemuda
disampingnya
Sepuluh menit berlalu, gempa pun berhenti. Puing rumah semipermanen
berceceran tak berbentuk, semuanya rata dengan tanah. Namun suasana kembali
mencekam ketika air laut mulai surut dan seorang penjaga pantai berteriak.
“tsunami!!!
Tsunami!! Lari ke atas! Lari ke bukit!”
Teriakan itu membuat semua orang kalangkabut. Tua, muda, kaya,
miskin, berbaur bercucuran keringat bercampur air mata ketakutan, berlari
menuju bukit yang tak dekat. Sementara gelombang pasang setinggi 7 meter itu sudah
siap menghantamkami yang sudah mulai lelah ini.Sekilas ku lihat ke belakang,
pekatnya air itu karena tercampur pasir. Aku yakin siapapun akan mati jika
terseretnya. “Ah.. aku tak boleh mati! Aku harus tetap hidup! Ya Allah
selamatkan aku. mamak tolong aku” sepintas pikiran itu memberiku dorongan untuk
tetap hidup dan terus berlari, meski dengan uraian air mata. Sungguh mencekam!
Bukit itu telah 50 meter di depan mata. Kudengar dari atas bukit
mamakku menangis histeris dan berteriak “Anakku, cepat naik!!”. Lelah, rasanya
lutut ini sudah tak mampu menjadi penumpu berat badanku. Lariku sudah tak
sekencang orang-orang. Kakiku mulai keram, keras.
“mak, mamak, tolong mak!”
“Anakku! Tolong anakku!! Anakku ,lari nak, lari!” teriak mamak yang
semakin lama suaranya makin tak terdengar
Kakiku mulai tenggelam dalam pekatnya air. Seketika derasnya
gelombang mulai menghanyutkanku. Kini kulihat mamak menangis, namun tak dapat
ku dengar suaranya sampai tak dapat lagi kulihat mamak karena air telah
menenggelamkan seluruh tubuhku. Aku hanya memejamkan mata. Saat itu aku berdoa
“ya Allah, selamatkan aku dan keluargaku. Jika usiaku terhenti dalam bencana
ini, ampuni aku atas segala dosa yang pernah aku perbuat...”.
Belum selesai aku berdoa, cahaya yang sangat terang menembus air
dan sangat mengganggu mataku meski saat itu dalam keadaan terpejam. Inikah
pertolongan Allah? Akhirnya aku mulai bangkit dan menuju cahaya itu. Kepalaku
mulai timbul di permukaan air. Aku dapat membuka mataku kali ini. Kulihat pohon
dengan rantingnya berada diatas kepalaku. “happp!!!” kuraih ranting itu. Kini
aku bergelantungan pada ranting dengan tubuh diterjang gelombang air. Sakit
badanku dihantam benda-benda yang terbawa air. Kakiku terus menerima hantaman
benda yang entah apa dari dalam air. Rasanya badanku sudah penuh luka baret.
Namun ini peluangku untuk tetap hidup.
Berjam-jam aku bergelantungan sembari menerima hantaman arus air
yang mulai surut. Lima jam berlalu, akhirnya air pun mulai surut. Daratan yang
dipenuhi lumpur mulai nampak. Namun tak kuduga, pohon yang ku pegangi ini roboh
dan menimpa sebelah kakiku. “tolong!!! Tolong!!!” Dengan rasa sakit ditimpa
batang pohon, aku berteriak dengan harapan ada yang mendengarku. Tapi ini tak
berguna, aku pun tak tahu dimana aku berada sekarang. Mungkin orang-orang telah
tewas.Aku mencoba menyingkirkan batang ini dari kakiku. Namun apa daya, lelah
tubuh dan teriknya matahari siang ini membuatku tak berdaya, hingga akhirnya
aku pingsan.
Rintik hujan sore itu membangunkanku. Tak banyak yang dapat kuingat
saat itu, hanya yang aku ingat aku makan 4buah apel kotor untuk sekedar mengisi
perutku. Teriakan meminta pertolongan seakan percuma karena mulutku sudah tak
kuat mengeluarkan kata-kata. Aku hanya dapat menunggu pertolongan datang,
sembari menghemat apel kotor ini agar cukup hingga pertolongan datang nanti.
Dua hari berselang, seorang tim pencari akhirnya menemukanku. Dia
memanggil bantuan untuk segera menyingkirkan pohon ini dari sebelah kakiku.
“astaghfirullah, tenang dek, kamu akan baik-baik saja. Kamu akan
selamat” ucapnya menenangkanku.
“bantuan!!! Ada korban selamat!!!” teriaknya memanggil tim pencari
yang lain
Tak kuingat berapa jumlah mereka, hanya rasa perih yang kurasa
ketika pohon itu mulai diangkat dari sebelah kakiku. “arghhhhh” Aku meringis
namun hati merasa lega. Hingga akhirnya aku jatuh pingsan.
Saat terbangun kembali, aku sudah berada di kamar dengan kasur yang
nyaman. Berbaju telur asin khas pasien rumah sakit. Kulihat mamak menangis
bahagia di sampingku, melihat anaknya telah siuman. sementara dokter mulai
mengecek detak jantungku dengan stetoskopnya. Hal janggal kurasakan ketika aku
tak merasakan kaki kananku.
“mak, kaki kananku kok gabisa diderakin” kulihat tak ada gerakan
dari balik selimut itu
“sabar nak, sabar” mamak kembali menangis namun berusaha menguatkan
aku.
Aku mencoba membuka selimut itu, namun mamak mencoba menghalangi
usahaku. Hingga selimut itu tersingkap karena gerakan berontakku.
“mak, kakiku kemana mak?” aku menanyakan keberadaan kakiku yang tak
nampak di tempatnya
“kamu yang sabar, za. Karena timpahan pohon beberapa waktu lalu,
kakimu terluka dan membusuk karena terlambat diobati. Kakimu terpaksa harus
diamputasi. Kamu yang sabar ya” jawab dokter itu dengan mata berkaca-kaca.
“ya Allah......” teriakku sambil menangis.
Saat itu aku hanya bisa menangis sambil berteriak meminta kakiku
kembali. Sampai-sampai aku tak ingin berbicara dengan siapapun. Apalah yang
dapat aku lakukan dengan sebelah kaki. Mimpiku menjadi pesepakbola wanita
profesional danmengharumkan nama Indonesia pupus sudah. Seakan tak ada harapan
lagi yang bergantng dari seorang cacat seperti aku. Namun, sekilas aku teringat
cahaya itu. Cahaya ketika aku berada dalam air.
“bukankah aku waktu itu berdoa untuk diselamatkan? Sekarang aku
telah selamat meski dengan sebelah kaki. Kenapa aku harus marah” aku begumam dalam
hati
“okelah kakiku buntung dan aku tak dapat mewujudkan mimpiku. Tapi
sekarang aku selamat. Nyatanya aku selamat. Masih banyak mimpi-mimpi yang dapat
aku ciptakan. Masih banyak cara untuk mengharumkan nama bangsa. Aku harus
bangkit! Harus” lanjutku.
Seketika semangatku mulai kembali. Kupanggil mamak dan meminta maaf
padanya. Aku bersyukur telah selamat dari maut yang berada sejengkal di
depanku. Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan hidup ini.
“tegap...... grak”
Komando pemimpin upacara membangunkanku dari lamunan masa laluku.
Sambil menunduk, kususut air mataku dengan kerudung yang kainnya panjang
menutupi dadaku. Namun tekadku kini telah kembali bulat. Memang dengan sebelah
kakiku aku tak dapat mengharumkan nama bangsa melalui mimpiku dulu. Tapi, sealu
ada mimpi lain yang harus aku ciptakan, selalu ada tujuan lain yang harus aku
capai, dan selalu ada cara lain untuk dapat mengharumkan bangsaku, meski
sebelah kakiku telah terenggut oleh bencana negeri ini. Di hadapan Merah Putih
aku berjanji, akan sungguh-sungguh belajarku, hingga karya-karyaku nanti dapat
menjadi kebanggaan bagi bangsa ini. Aku berjanji...
Comments
Post a Comment